Hati manusia tidak selalu berada dalam keadaan yang sama. Ada saatnya ia hidup, berkilau, dan mudah merespons kebaikan. Ada saatnya ia mati, kering, dan berat untuk diajak beribadah. Hasan al-Bashri, seorang ulama tabi'in yang dikenal karena kedalaman nasihatnya tentang penyakit hati, merumuskan cara menghadapi kedua keadaan ini dengan sangat praktis. Redaksi yang Anda bagikan adalah parafrase yang menangkap inti dari nasihat beliau yang terekam dalam kitab Az-Zuhd karya Imam Ahmad bin Hanbal.
Teks Arab yang paling banyak dinukil berbunyi: "إِنَّ الْقُلُوبَ تَمُوتُ وَتَحْيَا، فَإِذَا هِيَ مَاتَتْ فَاحْمِلُوهَا عَلَى الْفَرَائِضِ، فَإِذَا هِيَ أُحْيِيَتْ فَأَدِّبُوْهَا بِالتَّطَوُّعِ". Terjemahannya: "Sesungguhnya hati itu mati dan hidup. Apabila ia mati, maka bawalah ia kepada amalan-amalan fardhu. Dan apabila ia hidup, maka didiklah ia dengan amalan-amalan sunnah." Redaksi ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az-Zuhd, dan juga dikutip oleh para ulama setelahnya, seperti dalam Hilyat al-Awliya dan berbagai kitab nasihat.
Ada variasi redaksi lain yang maknanya sama. Sebagian menyebutkan "فَاحْمِلُوهَا عَلَى الْفَرَائِضِ" (bawalah ia kepada kewajiban-kewajiban), sebagian "فَأَدِّبُوْهَا بِالتَّطَوُّعِ" (didiklah ia dengan amalan sunnah), dan sebagian lagi membalik urutannya: "إذا حييت فاحملوها على النافلة، وإذا ماتت فاحملوها على الفريضة". Perbedaan ini bukanlah pertentangan, melainkan variasi dalam periwayatan yang menunjukkan bahwa nasihat ini disampaikan dalam beberapa kesempatan dengan redaksi yang sedikit berbeda, tetapi pesannya tetap satu.
Yang membuat nasihat ini begitu berharga adalah karena ia tidak menuntut hati untuk selalu bersemangat. Hasan al-Bashri mengakui bahwa hati bisa mati. Ia tidak menyalahkan orang yang merasakan kekeringan dalam ibadah, tetapi ia memberikan langkah yang jelas: ketika hati mati, jangan menunggu semangat datang. Bawalah hati itu kepada amalan fardhu. Shalat lima waktu, puasa Ramadhan, zakat, dan kewajiban-kewajiban lain tetap ditunaikan meskipun hati terasa hambar. Amalan fardhu adalah fondasi yang tidak boleh roboh, bahkan ketika rasa manis ibadah sedang tidak ada. Ia adalah obat untuk hati yang mati, karena kewajiban memiliki daya yang tetap bekerja meskipun perasaan belum mendukung.
Ketika hati mulai hidup, barulah amalan sunnah menjadi latihan yang tepat. Hasan al-Bashri menggunakan kata "ad-daba" (mendidik, membiasakan) untuk amalan sunnah setelah hati hidup. Ini menunjukkan bahwa amalan sunnah bukanlah beban yang dipaksakan pada hati yang sedang mati, melainkan latihan yang diberikan ketika hati sudah siap menerima. Shalat sunnah, puasa sunnah, sedekah, dan dzikir menjadi cara untuk merawat hati yang telah hidup agar tetap istiqamah dan tidak kembali kering. Ibarat tanaman, amalan fardhu adalah air yang menjaga akar tetap hidup, sedangkan amalan sunnah adalah pupuk yang membuatnya tumbuh subur.
Pelajaran ini sangat relevan bagi siapa pun yang pernah merasa lelah beribadah. Kadang kita merasa bersalah karena shalat terasa kosong, dan kita pun berhenti dari amalan sunnah karena merasa tidak layak. Hasan al-Bashri mengajarkan sebaliknya: jangan berhenti dari yang wajib, karena justru di situlah hati yang mati ditempatkan. Jangan pula memaksakan amalan sunnah yang banyak ketika hati sedang kering, karena itu bisa menambah beban tanpa menghasilkan buah. Kenalilah keadaan hati, lalu berikan amalan yang sesuai. Ketika hati mati, fokuslah pada kewajiban. Ketika hati hidup, tambahkan amalan sunnah. Dengan cara ini, ibadah tidak menjadi sumber frustrasi, melainkan menjadi sarana penyembuhan yang berjalan sesuai dengan ritme hati.
Pada akhirnya, nasihat Hasan al-Bashri ini mengajarkan kejujuran dan kasih sayang kepada diri sendiri. Tidak apa-apa mengakui bahwa hati sedang tidak bersemangat. Yang penting adalah tetap melangkah pada jalur yang benar. Amalan fardhu adalah jangkar yang menjaga kita tetap terhubung kepada Allah, bahkan ketika perasaan sedang tidak hadir. Dan amalan sunnah adalah sayap yang membantu kita terbang lebih tinggi ketika hati sudah kembali hidup. Keduanya bukanlah dua hal yang saling meniadakan, melainkan dua tahap dalam perawatan hati yang berkelanjutan. Sebagaimana hati bisa mati dan hidup, demikian pula cara kita merawatnya harus disesuaikan dengan keadaannya. Dan di situlah letak hikmahnya: bukan memaksa hati untuk selalu menyala, melainkan menuntunnya dengan sabar sampai ia menemukan kembali cahayanya.
