Nuffnang

Thursday, 21 August 2014

Nazar Tidak Dapat Mengubah Takdir

Nazar Tidak Dapat Mengubah Takdir 

Hadith : Dari Abu Hurairah katanya, nabi s.a.w bersabda:”Sesungguhnya nazar itu tidak dapat mendekatkan seseorang kepada sesuatu yang ditakdirkan Allah belum akan menjadi miliknya. Tetapi nazar itu sesuai dengan qadar. Dengan nazar dapat dipungut pembayaran dari orang-orang bakhil yang sebelumnya tidak bersedia membayarnya.” (Muslim)

Pengertian Nadzar

Nazar ialah mewajibkan suatu qurbah (kebajikan) yang sebenarnya tidak wajib menurut syari’at Islam dengan lafal yang menunjukkan hal itu.

Syarat nadzar 

meliputi: (1) Berakal (2) Baligh 3) Suka rela (tidak dipaksa). Nadzar itu adalah ibadah kuno yang telah lama dilakukan orang-orang dahulu. Nadzar itu disyariatkan, namun tidak digalakkan. Karena nadzar itu menunjukkan kekikiran orang yang bernadzar tersebut.
Orang yang mau melakukan ketaatan atau kebajikan hendaknya melakukannya saja tanpa harus dengan nadzar.

Hal ini sesuai dengan Hadits berikut:

 عن ابن عمر رضي الله عنهما قال نَهَى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – عَنِ النَّذْرِ قَالَ « إِنَّهُ لاَ يَرُدُّ شَيْئًا ، وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ
Artinya: “Diriwayatkan darilbnu Umar ra, ia berkata: Nabi saw melarang nadzar dan bersabda: “Sesungguhnya ia tidak menolak apa pun (takdir) dan hanya saja ia dikeluarkan dari orang yang kikif.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Nadzar itu ada dua macam: 

  1. Nadzar Mutlak, yaitu nadzar yang di­ucapkan secara mutlak tanpa dikaitkan dengan hal lain. Seperti “Lillahi ‘alayya (Wajib atasku untukAllah) bersedekah satujutarupiah”. 
  2. Nadzar Bersyarat, yaitu nadzar yang akan dilakukan jika mendapat suatu kenikmatan atau dihilangkan suatu bahaya. Seperti: “Jika Allah menyem-buhkan penyakitku ini, aku akan berpuasa tiga hari”. 


Nadzar itu wajib dipenuhi/dilaksanakan jika merupakan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Contohnya, bernadzar shalat di masjid jika hajatnya terkabulkan, dan se­perti bernadzar memberi makan anak yatim jika mendapat rezeki. Jika nadzar ini tidak dilaksanakan, maka orang yang ber­nadzar terkena kaffarat. 

Kaffarat nadzar sama dengan kaffarat sumpah, yaitu memberi makan kepada sepuluh orang miskin dengan makanan yang biasa di-berikan kepada keluarga, atau memberi mereka pakaian, atau memerdekakan hamba sahaya. Jika semua itu tidak bisa dilakukan maka ia wajib puasa tiga hari, baik secara berturut-turut maupun tidak. 

Hal ini berdasarkan Hadits berikut: 

عن عقبة بن عامر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال كفارة النذر كفارة اليمين
Artinya: “Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir dari Rasulullah saw bersabda: “Kaf­farat nadzar itu kaffarat sumpah”.” (HR. Muslim)


Tapi jika nadzar itu merupakan kemak-siatan/kedurhakaan kepada Allah dan Rasul-Nya maka nadzar tersebut tidak wa­jib dilaksanakan. Contohnya, bernadzar minum arak jika lulus ujian, dan bernadzar membunuh si polan atau meninggalkan shalat jika naik pangkat. 

Hal ini sesuai dengan Hadits berikut: 


عن عائشة رضي الله عنها قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من نذر أن يطيع الله فليطعه. ومن نذر أن يعص الله فلا يعصه”رواه البخاري
Artinya: “Diriwayatkan dariAisyah ra dari Nabi saw bersabda: “Barangsiapa bernadzar untuk menaatiAllah maka hen-daklah ia menaatiNya, dan barangsiapa bernadzar untuk mendurhakai-Nya maka janganlah ia mendurhakai-Nya”.” (HR al-Bukhari dan Muslim) 


Orang yang bernadzar dengan suatu kemaksiatan lalu tidak melaksanakannya tidak terkena kaffarat.Dan jika nadzar itu atas sesuatu yang mubah atau halal, seperti bernadzar memakai baju baru ketika pergi ke kantor dan bernadzar mengendarai mobil untuk pergi ke masjid jika bisa membeli mobil, maka nadzar ini juga wajib dilaksanakan dan apabila tidak dilaksanakan terkena kaffarat. 

Hal ini berdasarkan Hadits berikut: 


عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جدهأن امرأة أتت النبي صلى الله عليه وسلم فقالت يا رسول الله إني نذرت أن أضرب على رأسك بالدف قال أوفي بنذرك
Artinya: “Diriwayatkan dari Amru bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya bahwa ada seorang perempuan mendatangi Nabi saw lalu berkata: WahaiRasulullah, sesung-guhnya aku telah bernadzar menabuh gendang dihadapanmu. Beliau bersabda: “Penuhilah nadzarmu”. “(HR. Abu Dawud) 


Menurut Hadits ini, bernadzar menabuh kendang itu wajib dilaksanakan. Padahal menabuh gendang itu kalau bukan suatu yang mubah maka ia adalah suatu yang makruh dan tidak akan pernah menjadi suatu qurbah (kebajikan/ketaatan). Jika ia mubah maka Hadits di atas meru­pakan dalil yang mewajibkan pelaksanaan nadzar atas yang mubah, dan jika ia makruh maka izin untuk memenuhi nadzar tersebut menunjukkan bahwa memenuhi nadzar atas yang mubah itu lebih utama. 

Jika seseorang itu bernadzar, lalu ia lupa jenis nadzarnya, maka karena ia tidak bisa melaksanakannya, ia wajib membayar kaffarat nadzarnya itu. Hal ini karena nadzar tersebut masih men­jadi hutangnya kepada Allah. Kaffarat nadzar sebagaimana diterangkan yaitu dengan memberi makan sepuluh orang miskin dengan makanan yang biasa ia makan untuk dirinya dan ke-luarganya atau memberi mereka pa­kaian atau dengan memerdekakan se­orang hamba. Jika semua itu tidak sanggup ia lakukan, maka ia harus ber-puasa selama tiga hari, boleh berturut-turut dan boleh tidak berturut-turut. 

Hukum nadar Hukum penunaiannya adalah wajib, baik nazar tersebut nazar mu’allaq atau nazar muthlaq. 

Dalil yang menunjukkan wajibnya adalah, 

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ “
Barangsiapa yang bernazar untuk taat pada Allah, maka penuhilah nazar tersebut.” (HR. Bukhari no. 6696) 


Dalil lainnya, dari Ibnu ‘Umar, beliau berkata,


 أَنَّ عُمَرَ - رضى الله عنه - نَذَرَ فِى الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ يَعْتَكِفَ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ - قَالَ أُرَاهُ قَالَ - لَيْلَةً قَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « أَوْفِ بِنَذْرِكَ » “Dahulu di masa jahiliyah, Umar radhiyallahu ‘anhu pernah bernazar untuk beri’tikaf di masjidil haram –yaitu i’tikaf pada suatu malam-, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya, ‘Tunaikanlah nazarmu’.” (HR. Bukhari no. 2043 dan Muslim no. 1656) 


Jika nazar tidak mampu ditunaikan Jika nazar yang diucapkan mampu ditunaikan, maka wajib ditunaikan. Namun jika nazar yang diucapkan tidak mampu ditunaikan atau mustahil ditunaikan, maka tidak wajib ditunaikan. Seperti mungkin ada yang bernazar mewajibkan dirinya ketika pergi haji harus berjalan kaki dari negerinya ke Makkah, padahal dia sendiri tidak mampu. Jika nazar seperti ini tidak ditunaikan lantas apa gantinya?

Barangsiapa yang bernazar taat, lalu ia tidak mampu menunaikannya, maka nazar tersebut tidak wajib ditunaikan dan sebagai gantinya adalah menunaikan kafaroh sumpah. Kafaroh sumpah adalah: Memberi makan kepada sepuluh orang miskin, atau Memberi pakaian kepada sepuluh orang miskin, atau Memerdekakan satu orang budak Jika tidak mampu ketiga hal di atas, barulah menunaikan pilihan berpuasa selama tiga hari. 

(Lihat Surat Al Maidah ayat 89) 

Artinya:Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).

Friday, 8 August 2014

10 Silap Besar Isteri Terhadap Suami

10 Silap Besar Isteri Terhadap Suami


Rumahtangga adalah satu bentuk hubungan mesra diantara seorang lelaki dan wanita sebagai suami dan isteri dalam perjalanan menuju kebahagiaan dalam kehidupan dan untuk mendapatkan redha Allah.

Tetapi ramai yang tidak menyedari akan beberapa perkara yang merupakan satu kesilapan besar dilakukan oleh isteri terhadap suami mereka.

1. Menuntut keluarga yang ideal dan sempurna


Sebelum menikah, seorang wanita membayangkan pernikahan yang begitu indah, kehidupan yang sangat romantis sebagaimana ia baca dalam novel mahupun ia saksikan dalam drama sinetron.

Ia memiliki gambaran yang sangat ideal dari sebuah pernikahan. Segala masalah dalam perkahwinan seperti perselisihan pendapat, masalah kewangan, dan masalah anak-anak seolah-olah tidak difikirkannya.

Ia hanya membayangkan yang indah-indah dan seronok dalam sebuah perkahwinan.

Akhirnya, ketika ia menghadapi semua itu, ia tidak bersedia. Ia tidak mampu menerima keadaan itu, dan selalu menuntut suaminya agar keluarga yang mereka bina sesuai dengan gambaran ideal yang senantiasa diimpikan sejak muda.

Seorang wanita yang hendak menikah, alangkah baiknya jika ia melihat suasana perkawinan dengan pemahaman yang lebih terperinci, beserta masalah yang ada di dalamnya.

2. Nusyus (tidak taat kepada suami)


Nusyus adalah sikap membangkang, tidak patuh dan tidak taat kepada suami. Wanita yang melakukan nusyus adalah wanita yang melawan suami, melanggar perintahnya, tidak taat kepadanya, dan tidak ridha pada kedudukan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah tetapkan untuknya.

Nusyus memiliki beberapa bentuk, diantaranya adalah:

- Menolak ajakan suami ketika mengajaknya ke tempat tidur, dengan terang-terangan maupun secara samar.
- Mengkhianati suami, misalnya dengan menjalin hubungan gelap dengan lelaki lain.
- Memasukkan seseorang yang tidak disenangi suami ke dalam rumah tanpa izin.
- Lalai dalam melayani suami
- Membazir dan membelanjakan wang pada yang bukan tempatnya
- Menyakiti suami dengan tutur kata yang buruk, mencela, dan mengejeknya
- Keluar rumah tanpa izin suami
- Menyebarkan dan mencela rahsia-rahsia suami.

Seorang isteri solehah akan senantiasa menempatkan ketaatan kepada suami di atas segala-galanya. Tentu saja bukan ketaatan dalam kedurhakaan kepada Allah, kerana tidak ada ketaatan dalam maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia akan taat walau dalam situasi apapun, senang mahupun susah, suka ataupun duka.

Ketaatan isteri seperti ini sangat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan cinta dan memelihara kesetiaan suami.

3. Tidak menyukai keluarga suami


Terkadang seorang isteri menginginkan agar seluruh perhatian dan kasih sayang sang suami hanya tercurah pada dirinya. Tak boleh sedikit pun waktu dan perhatian diberikan kepada selainnya. Termasuk juga kepada orang tua suami.

Padahal, di satu sisi, suami harus berbakti dan memuliakan orang tuanya, terlebih ibunya.
Salah satu bentuknya adalah cemburu terhadap ibu mertuanya.

Ia menganggap ibu mertua sebagai pesaing utama dalam mendapatkan cinta, perhatian, dan kasih sayang suami. Terkadang, sebahagian isteri berani menghina dan merendahkan orang tua suami, bahkan ia tak jarang berusaha merayu suami untuk berbuat durhaka kepada orang tuanya.

Terkadang isteri sengaja mencari-cari kesalahan dan kelemahan orang tua dan keluarga suami, atau membesar-besarkan suatu masalah, bahkan tak segan untuk memfitnah keluarga suami.

Ada juga seorang isteri yang menuntut suaminya agar lebih menyukai keluarga isteri, ia berusaha menjauhkan suami dari keluarganya dengan berbagai cara.

Ikatan pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan dalam sebuah perkahwinan, namun juga ‘pernikahan antara keluarga’. Kedua orang tua suami adalah orang tua isteri, keluarga suami adalah keluarga isteri, demikian sebaliknya. Menjalin hubungan baik dengan keluarga suami merupakan salah satu keharmonian keluarga. Suami akan merasa tenang dan bahagia jika isterinya mampu meletakkan dirinya dalam kelurga suami. Hal ini akan menambah cinta dan kasih sayang suami.

4. Tidak menjaga penampilan


Terkadang, seorang isteri berhias, berdandan, dan mengenakan pakaian yang indah hanya ketika ia keluar rumah, ketika hendak menghadiri undangan, ke pejabat, mengunjungi saudara maupun teman-temannya, pergi ke tempat perbelanjaan, atau ketika ada acara lainnya di luar rumah.

Keadaan ini sungguh berbalik ketika ia di depan suaminya. Ia tidak peduli dengan tubuhnya yang kotor, cukup hanya mengenakan pakaian seadanya: terkadang kotor, lusuh, dan berbau, rambutnya kusut masai, ia juga hanya mencukupkan dengan aroma dapur yang menyengat.

Jika keadaan ini terus menerus dipelihara oleh isteri, jangan hairan jika suami tidak balik di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar rumah. Semestinya, berhiasnya dia lebih ditujukan kepada suami. Janganlah keindahan yang telah dianugerahkan oleh Allah diberikan kepada orang lain, padahal suami nya di rumah lebih berhak untuk itu.

5. Kurang berterima kasih

Tidak jarang, seorang suami tidak mampu memenuhi keinginan si isteri. Apa yang diberikan suami jauh dari apa yang ia harapkan. Ia tidak puas dengan apa yang diberikan suami, meskipun suaminya sudah berusaha secara sebaik mungkin untuk memenuhi keperluan keluarga dan keinginan-keinginan isterinya.

Isteri kurang bahkan tidak memiliki rasa terima kasih kepada suaminya. Ia tidak bersyukur atas kurnia Allah yang diberikan kepadanya melalui suaminya. Ia senantiasa merasa sempit dan kekurangan. Sifat bersyukur dan redha terhadap apa yang diberikan Allah kepadanya sangat jauh dari dirinya.

Seorang isteri yang solehah tentunya mampu memahami tahap kemampuan suami. Ia tidak akan membebani suami dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukan suami. Ia akan berterima kasih dan mensyukuri apa yang telah diberikan suami. Ia bersyukur atas nikmat yang dikurniakan Allah kepadanya, dengan bersyukur, insya Allah, nikmat Allah akan bertambah.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

6. Mengingkari kebaikan suami


“Wanita merupakan kebanyakan penduduk neraka.”

Demikian disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah solat gerhana ketika terjadi gerhana matahari.

Ajaib !! wanita sangat dimuliakan di mata Islam, bahkan seorang ibu memperoleh hak untuk dihormati tiga kali lebih besar berbandingayah. Seseorang yang dimuliakan, namun malah menjadi penghuni kebanyakan neraka. Bagaimana ini terjadi?

“Kerana kekufuran mereka,” jawab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika para sabahat bertanya mengapa hal itu boleh terjadi. Apakah mereka mengingkari Allah?

Bukan, mereka tidak mengingkari Allah, tapi mereka mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah diperbuat suaminya. Andaikata seorang suami berbuat kebaikan sepanjang masa, kemudian seorang isteri melihat sesuatu yang tidak disenanginya dari seorang suami, maka si isteri akan mengatakan bahwa ia tidak melihat kebaikan sedikitpun dari suaminya. Demikian penjelasan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari (5197).

Mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan suami!!

Inilah penyebab banyaknya kaum wanita berada di dalam neraka. Mari kita lihat diri setiap kita, kita saling mengingati, apa dan bagaimana yang telah kita lakukan kepada suami-suami kita?

Jika kita terbebas dari yang demikian, alhamdulillah. Itulah yang kita harapkan. Berita gembira untukmu wahai saudariku.

Namun jika tidak, kita (sering) mengingkari suami, mengingkari kebaikan-kebaikannya, maka berhati-hatilah dengan apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bertaubat, satu-satunya pilihan utuk terhindar dari pedihnya siksa neraka. Selama matahari belum terbit dari barat, atau nafas telah ada di kerongkong, masih ada waktu untuk bertaubat. Tapi mengapa mesti nanti? Mengapa mesti menunggu sakaratul maut?

Janganlah engkau katakan besok dan besok wahai saudariku; kejarlah ajalmu, bukankah engkau tidak tahu bila engkau akan menemui Robb mu?

“Tidaklah seorang isteri yang menyakiti suaminya di dunia, melainkan isterinya (di akhirat kelak): bidadari yang menjadi pasangan suaminya (berkata): “Jangan engkau menyakitinya, kelak kamu dimurkai Allah, seorang suami bagimu hanyalah seorang tamu yang bolah segera berpisah dengan kamu menuju kami.” (HR. At Tirmidzi, hasan)

Wahai saudariku, mari kita lihat, apa yang telah kita lakukan selama ini, jangan pernah bosan dan henti untuk muhasabah diri, jangan sampai apa yang kita lakukan tanpa kita sedari membawa kita kepada neraka, yang kedahsyatannya tentu sudah Engkau ketahui.

Jika suatu saat, muncul sesuatu yang tidak kita sukai dari suami; janganlah kita mengingkari dan melupakan semua kebaikan yang telah suami kita lakukan.

“Maka lihatlah kedudukanmu di sisinya. Sesungguhnya suamimu adalah syurga dan nerakamu.” (HR.Ahmad)

7. Mengungkit-ungkit kebaikan


Setiap orang tentunya memiliki kebaikan, tak terkecuali seorang isteri. Yang jadi masalah adalah jika seorang isteri menyebut kebaikan-kebaikannya di depan suami dalam rangka mengungkit-ungkit kebaikannya semata.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” [Al Baqarah: 264]

Abu Dzar radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Ada tiga kelompok manusia dimana Allah tidak akan berbicara dan tak akan memandang mereka pada hari kiamat. Dia tidak mensucikan mereka dan untuk mereka adzab yang pedih.”

Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakannya sebanyak tiga kali.” Lalu Abu Dzar bertanya, “Siapakah mereka yang rugi itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang menjulurkan kain sarungnya ke bawah mata kaki (isbal), orang yang suka mengungkit-ungkit kebaikannya dan orang yang suka bersumpah palsu ketika menjual. ” [HR. Muslim]

8. Sibuk di luar rumah


Seorang isteri terkadang memiliki banyak kesibukan di luar rumah. Kesibukan ini tidak ada salahnya, asalkan mendapat izin suami dan tidak sampai mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya.

Jangan sampai aktivit tersebut melalaikan tanggung jawab nya sebagai seorang isteri. Jangan sampai amanah yang sudah dipikulnya diabaikan.

Ketika suami pulang dari mencari nafkah, ia mendapati rumah belum beres, pakaian belum dicuci, hidangan belum siap, anak-anak belum mandi, dan lain sebagainya. Jika hal ini terjadi terus menerus, boleh jadi suami tidak balik di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar atau di pejabat.

9. Cemburu buta


Cemburu merupakan tabiat wanita, ia merupakan suatu ekspresi cinta. Dalam batas-batas tertentu, dapat dikatakan wajar bila seorang isteri merasa cemburu dan memendam rasa curiga kepada suami yang jarang berada di rumah. Namun jika rasa cemburu ini berlebihan, melampaui batas, tidak meunasabah dan hanya berasal dari sangkaan buruk; maka rasa cemburu ini dapat berubah menjadi cemburu yang tercela.

Cemburu yang disyariatkan adalah cemburunya isteri terhadap suami kerana kemaksiatan yang dilakukannya, misalnya: berzina, mengurangi hak-hak nya, menzaliminya, atau lebih mendahulukan isteri lain berbanding dirinya. Jika terdapat tanda-tanda yang membenarkan hal ini, maka ini adalah cemburu yang terpuji. Jika hanya dugaan belaka tanpa fakta dan bukti, maka ini adalah cemburu yang tercela.

Jika kecurigaan isteri berlebihan, tidak berdasar pada fakta dan bukti, cemburu buta, hal ini tentunya akan mengundang kekesalan dan buruk sangka suami. Ia tidak akan pernah merasa aman ketika ada di rumah. Bahkan, kemungkinan, si suami akan melakukan atau mengambil kesempatan seperti mana sangkaan isteri terhadapnya.

10. Kurang menjaga perasaan suami


Kepekaan suami mahupun isteri terhadap perasaan pasangannya sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya konflik, kesalahfahaman, dan perasaan tersinggung.

Seorang isteri hendaknya senantiasa berhati-hati dalam setiap ucapan dan perbuatannya agar tidak menyakiti perasaan suami, ia mampu menjaga lisannya dari kebiasaan mencaci, berkata keras, dan mengkritik dengan cara keterlaluan. Isteri selalu berusaha untuk menampakkan wajah yang ramah, menyenangkan, tidak bermuka masam, dan menyejukkan ketika dipandang suaminya.

Demikian beberapa kesalahan-kesalahan isteri yang kebanyakannya dilakukan kepada suami yang sepatutnya kita hindari agar suami semakin sayang pada setiap isteri. Semoga keluarga kita menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah.

Aamiiin.

Semoga bermanfaat

Wednesday, 6 August 2014

Kucing Meow Meow

Miaoo...Miaoo...Miaoo versi kucing menangis...)

Assalamualaikum dan Salam Sejahtera buat pelanggan baru dan sedia kami yang dikasihi, followers, bloggers, pelawat, warga sahabat dan pencinta kucing tegar amnya. Entry kali ni Keyza nak share
tentang PUSAT PERLINDUNGAN KUCING. 


Baru-baru ni kucing-kucing kesayangan family Keyza dah pergi buat selamanya akibat serangan fungus yang teruk. So anak-anak Keyza mula merindui kucing-kucing diorang, dan hubby Keyza mula mencari kucing-kucing untuk dibeli, tapi bagi Keyza buat apa nak beli sedangkan ada je kucing yang boleh dapat secara percuma kan. 

Pencarian Keyza bermula dan Keyza mula Google dan terjumpa la tentang Pusat Perlindungan Kucing Terbiar. Dan yang paling terhampir dengan kawasan rumah kitorang adalah Putrajaya. Tak sangka pula kat area Putrajaya ni ada PUSAT PERLINDUNGAN KUCING ni. So 1st time kitorng datang sini just ushar-ushar dari luar je sebab PUSAT PERLINDUNGAN KUCING ni dah tutup. Masa ushar-ushar tu ternampak la ada kucing jenis Persian di sini. So apalagi terus la hubungi no yang tertera di whiteboard yang terpapar ni.







PUSAT PERLINDUNGAN KUCING, AHLI PARLIMEN PUTRAJAYA, dikendalikan oleh YAYASAN AL MANSORIAH dan mereka memerlukan sukarelawan bagi menguruskan sicomel di bawah jagaan dan pantauan mereka ini. Kepada yang berminat dialu2kan datang dan sekiranya terdapat pertanyaan, hubungi no yang tertera. Untuk yang ingin datang melawat pun boleh juga.

PUSAT PERLINDUNGAN KUCING PUTRAJAYA
JALAN P9B2, PRESINT 9 PUTRAJAYA
(landmarks cari flat hijau yer sekarang flat hijau dah color kelabu)

Lepas dah call Keyza tanya juga kalau nak adopt boleh ke? Ada bayaran apa-apa tak? En Rosli ni cakap tiada bayaran dikenakan semua kucing tu adalah PERCUMA. Boleh pilih mana yang berkenan di hati. Tempat ni tiada perkhidmatan boarding tau. So jangan memandai lak nak boarding kucing uols di sini ye. Tapi kalau uols nampak kucing-kucing terbiar di sekitar Putrajaya boleh la hantar ke Pusat ni dan FYI Pusat ni hanya menerima kucing-kucing terbiar dari sekitar Putrajaya sahaja luar Putrajaya tidak akan diterima. 















Ni yang Keyza dah adopt terus bawa g Pets SPA amik ubat dan grooming sikit kasi comel balik. Nampak gemuk sebenarnya bulu dia je tebal tapi hakikatnya berat dia baru 2.8kg je almaklum la tinggal kat shelters je takde sapa nak manjakan sangat kan. Bawa naik keta relax je dia dok atas riba Mr Hubby yang tengah memandu. Manja sangat kucing ni uols. So we have decided to give his name Fussie. 

Ni la Pets SPA yang Keyza pergi. 

Uols boley juga nak follow blog: http://jhanpetcare.blogspot.com/




2NE1 LYRICS - Come Back Home

Trending sekarang lagu ni jom layan video klip sambil berkaraoke bersama Keyza

"Come Back Home"


One two three neon nareul tteonatjiman
Eodingaeseo neoui sumsoriga deullyeowa

Tto dasi four five six ppalgan nunmuri naeryeowa
Nareul andeon neoui hyanggiga geuripda

Nareul wihan geora haetdeon neoui mal
Geojitmalcheoreom chagapge doraseotdeon
Neoneun wae, neoneun wae you’’re gone away

Come back home
Can you come back home eh
Chagaun sesang kkeute nal beoriji malgo nae gyeoteuro
Come back home
Can you come back home eh
Modeun apeumeun dwiro hae yeojeonhi neol gidaryeo ireoke
Now you gotta do what you gotta do

Come back home
Come back home

Come baby baby come come baby
Come Come baby baby come come naege dorawa
Come baby baby come come baby
Come Come baby baby come come

Amu daedap eomneun niga neomu mipjiman
Gakkeumeun neodo nareul geuriwohalkka yeah

Neo eomneun sigan soge gatyeobeorin nan
Apeul bol suga eobseo neomu duryeowo

Ajikdo motda han manheun naldeuri
Gidarigo isseul geotman gata
Neoneun eodie, eodie too far away

Come back home
Can you come back home eh
Chagaun sesang kkeute nal beoriji malgo nae gyeoteuro
Come back home
Can you come back home eh
Modeun apeumeun dwiro hae yeojeonhi neol gidaryeo ireoke
Now you gotta do what you gotta do

Come back home
Come back home

Come baby baby come come baby
Come Come baby baby come come naege dorawa
Come baby baby come come baby
Come Come baby baby come come

Come back home
Can you come back home eh
Chagaun sesang kkeute nal beoriji malgo nae gyeoteuro
Come back home
Can you come back home eh
Modeun apeumeun dwiro hae yeojeonhi neol gidaryeo ireoke
Now you gotta do what you gotta do

Saturday, 26 July 2014

Duit Raya vs Sedekah

Bismillah.

Ada beberapa isu yang berkaitan dengan hukum memberikan duit raya di pagi Syawal. Pertama tentang hukum bersedekah, kedua tentang menetapkan 1 syawal sebagai hari bersedekah, dan yang ketiga isu ang pow atau sampul yang digunakan.

Keutamaan bersedekah

Sedekah merupakan satu tuntutan di dalam Islam, di mana dalam banyak hadis Nabi SAW juga di dalam Al Quran secara umum,

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّاْئَةُ حَبَّةٍ وَاللهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَآءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Ertinya: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai menghasilkan seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (surah Al-Baqarah, 2: 261)

Maksudnya bersedekah atau infaq pada jalan Allah SWT merupakan satu amalan yang ganjarannya sangat besar dan ia bertambah-tambah. Begitu juga di dalam hadis Nabi SAW bersabda,

تهادوا تحابوا

Ertinya: “Hendaknya kalian saling memberi hadiah nescaya kalian saling mencintai.” (riwayat Al-Bukhari dalam Al Adab al Mufrad, hasan)

Maka salah satu cara untuk menghubungkan silaturrahim adalah dengan melalui sedekah. Maknanya hukum asal bersedekah adalah harus dan dituntut dalam Islam.

Kedua, mengkhususkan sedekah pada pagi raya, iaitu mereka menahan atau tidak bersedekah pada bulan puasa atau hari-hari lain dan menunggu hingga hari raya untuk memberi sedekah. Ini yang menjadi perbahasan di kalangan para ulama. Sebahagian daripadanya menyatakan keharusan kerana ia adalah adat dalam masyarakat.

Sebahagian yang lain berbeza pendapat apabila sedekah tersebut dihubungkan dengan poin yang ketiga iaitu berkaitan dengan sampul ang pow, kerana ada di sana unsur-unsur yang dikenali sebagai tasyabbuh (penyerupaan) kepada perayaan lain, kerana sabda Nabi di dalam hadis,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Ertinya: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (riwayat Imam Ahmad)

Kalau kita lihat bagaimana Nabi apabila masuk ke Madinah Munawwarah, baginda melihat golongan Yahudi pada ketika itu mereka meninggalkan bermesra dengan isteri-isteri mereka, tidak berbual dengan isteri mereka dan menganggap isteri mereka najis pada ketika isteri mereka dalam keadaan haidh atau uzur syar’i, tetapi apabila Islam datang, Nabi masuk ke Madinah dan Nabi menyelisihi perbuatan yahudi, Nabi tidak tasyabbuh dan tidak menyerupai perbuatan mereka. Kata Nabi kepada para sahabat, kamu berhak bermesra dengan isteri kamu, kamu berhak mendatangi isteri kamu melainkan antara pusat dan lutut. Maknanya boleh berbual walaupun dalam keadaan yang haidh. Berbeza dengan pendekatan yahudi pada ketika itu.

Jadi ini contoh penyelisihan yang dibawa, Nabi sentiasa membawa penyelisihan, Nabi tidak membawa persamaan.

Ada ketika dulu kita memberi komentar apabila ada kenyataan-kenyataan yang menyebut kongsi raya di mana mereka mengatakan perayaan semua sama. Tidak, Islam adalah perayaan yang berbeza. Mereka yang beragama buddha atau hindu dan sebagainya, mereka berhak merayakan perayaan mereka kerana kita di dalam negara ini memberikan hurriyatul i’tiqad yakni kebebasan untuk berakidah, terpulang kepada mereka untuk mengamalkan dan merayakan hari perayaan mereka.

Tetapi kita sebagai umat Islam harus meletakkan kepercayaan kita bahawasanya hari raya adalah hari kebesaran dan kemenangan bagi umat Islam dan berbeza dengan agama lain dan kita wajib meraikannya, wajib berseronok pada hari tersebut.

Nabi SAW apabila tiba di Madinah Al Munawwarah, baginda bertemu dengan golongan Ansar di mana mereka pada ketika itu menyambut dua hari raya yang merupakan perayaan nenek moyang mereka yang pada ketika itu terpengaruh dengan aliran dan ajaran majusi. Nabi bertanya kepada mereka,

” ما هذان اليومان؟ “. قالوا: كنا نلعب فيهما في الجاهلية. فقال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إن الله قد أبدلكم بهما خيراً منهما: يومَ الأضحى وبومَ الفطر”

“Apa dua hari ini?” Mereka menjawab: “Dahulu di zaman jahiliyyah kami (merayakannya dengan) bermain di dalamnya.” Maka baginda bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan keduanya untuk kalian, dengan ganti yang lebih baik dari keduanya; Hari Raya Idul Adha dan Hari Raya Idul Fitri”. (riwayat Abu Dawud, dan yang lainnya. Dinilai sahih oleh Al-Hakim, Adz-Dzahabi, Al-Albani)

Maka pada kedua-dua hari raya ini kita dituntut bergembira, berseronok dalam ruang lingkup dan etika menurut syara’. Begitu juga kaitannya dengan bersedekah, mengapa perlu dikhususkan bulan Syawal untuk bersedekah sedangkan Nabi merupakan orang yang paling dermawan dan kuat bersedekah di dalam bulan Ramadhan.

Mengapa dalam bulan Ramadhan kita simpan duit yang kita ambil daripada bank dan tunggu hari raya baru kita berikan sedekah. Mengapa tidak kita berikan dalam bulan Ramadhan Al Mubarak, kerana ganjarannya lebih besar.

Bagi orang yang cerdik pandai, bagi mereka yang mengerti selok belok perniagaan mereka akan memilih perniagaan yang paling cepat untuk mendatangkan keuntungan, maka begitu juga dalam beragama, kita perlu memilih amal perbuatan yang paling dekat untuk mendapat keredhaan Allah SWT, mendapat mustajab diterima oleh Allah SWT dan diberikan ganjaran oleh Allah SWT berlipat kali ganda. Maka bagi orang yang bijak, bijaklah ia dalam memilih.

Sumber: http://ustazfathulbari.wordpress.com/2012/08/18/duit-raya-di-pagi-syawal/

Monday, 21 July 2014

Lailatul Qadar ~ Marhaban Ya Ramadhan

UMAT Islam kini berada pada fasa ketiga Ramadan di mana kemuncak keistimewaan 10 hari terakhir Ramadan ini ialah kemunculan malam penuh berkat yang lebih baik daripada seribu bulan. Malam al-Qadr dinanti-nantikan oleh setiap Muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah.

Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Sesungguhnya bulan ini (Ramadan) telah datang kepada kamu, dalamnya ada malam yang amalan ibadat yang dilakukan pada malam itu lebih baik dan besar ganjarannya daripada amalan selama seribu bulan. Sesiapa yang kehilangan malam itu, sesungguhnya dia telah kehilangan semua kebaikan. Dan tidak akan kehilangan semua perkara itu, kecuali orang yang telah diharamkan (tidak mendapat petunjuk) daripada Allah”. (riwayat Ibnu Majah).

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda maksudnya: Sesiapa yang beribadah pada malam al-Qadr dengan penuh keimanan dan mengharapkan keredaan Allah, mudah-mudahan akan diampuni dosanya yang lalu. (riwayat Muslim). 

Para ulama bersepakat bahawa malam al-Qadr berlaku di bulan Ramadan. Begitu juga mereka bersepakat malam itu berlaku pada 10 malam terakhir Ramadan. Mereka hanya berselisih pendapat tentang malam yang ke berapa. Pendapat yang masyhur menyatakan bahawa malam al-Qadr berlaku pada malam ke-27 Ramadan.

Rasulullah SAW pernah bersabda maksudnya: “Barang siapa yang ingin mendapatkan al-Qadr, dia hendaklah mencari pada malam ke-27 (riwayat Ahmad).” Ada juga riwayat lain yang mengatakan malam mulia itu berlaku pada malam ganjil 10 hari terakhir. Apa pun harinya, yang penting pada malam itu, Allah menurunkan rahmat, limpahan kurnia dan keampunan kepada hamba-hamba-Nya yang melaksanakan ibadat dengan penuh keimanan dan mengharapkan keredaan Allah. Kelebihan malam al-Qadr tidak akan dianugerahkan kepada sebarangan orang dan juga tidak pula diberi kepada orang yang ibadahnya hanya pada malam-malam tertentu sahaja. Fadilat malam itu akan menyinari mereka yang benar-benar ikhlas, khusyuk dan istiqamah dalam beribadat. Hadirnya malam penuh berkat itu sangat dinantikan dan disambut dengan penuh keimanannya.

Kata al-Imam al-Qurtubiy, Rasulullah SAW diperlihatkan kepadanya usia umat terdahulu, maka baginda merasa bahawa usia umatnya terlalu pendek hingga tidak mungkin dapat mencapai amal seperti mana yang diraih oleh umat terdahulu yang usianya lebih panjang. Purata usia umat Muhammad antara 60 hingga 70 tahun menurut maksud satu hadis Rasulullah SAW. Sebab itu Allah menawarkan malam al-Qadr yang mempunyai nilai 1,000 bulan kepada Rasulullah SAW dan umatnya.


Justeru itu, malam al-Qadr dianugerahkan oleh Allah kepada Rasulullah dan umatnya sebagai tanda kasih sayang dan rahmat-Nya yang menyeluruh. Amal kebajikan seseorang hamba Allah pada malam itu adalah lebih baik daripada amal kebajikan selama 1,000 bulan atau 83 tahun tiga bulan. Kerana keutamaan ini, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya agar mencari dan seterusnya mendapatkan malam al-Qadr. Dalam hal ini, Rasulullah perlu dijadikan ikutan yang menampilkan teladan terpuji dalam menghidupkan malam terakhir Ramadan. Ini dilakukan dengan melaksanakan iktikaf, membangunkan keluarga agar lebih meningkatkan amalan ibadat pada malam hari dan tidak mendekati isterinya dengan tujuan memperbanyakkan amal ibadat di masjid seperti solat tahajud, witir, terawih, bertadarus al-Quran, berzikir dan seumpamanya.

Rasulullah sentiasa memanjatkan doa ke hadrat Ilahi. Antara yang sering baginda baca adalah doa maksudnya: “Wahai Tuhan kami! Anugerahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan juga kebajikan di akhirat serta peliharakanlah kami daripada seksaan api neraka yang pedih.” Doa yang dilafazkan itu bukan sekadar satu permohonan untuk memperoleh kebajikan dunia dan akhirat, malah untuk memantapkan langkah dan kesungguhan agar dapat meraih kebajikan yang dijanjikan Allah. Ini kerana doa itu sendiri membawa maksud satu permohonan yang penuh tulus dan pengharapan, di samping disusuli dengan usaha melipatgandakan amal ibadat yang mendekatkan diri kepada Allah.

Selain itu, setiap Muslim dianjurkan bertaubat dan memohon ampun kepada Allah daripada sebarang dosa yang lalu. Setiap manusia tidak terlepas daripada kealpaan dan seterusnya melakukan kesalahan yang dilarang Allah.

Dalam hal ini, Rasulullah bersabda maksudnya: “Setiap anak Adam tidak akan terlepas dari melakukan dosa dan sebaik-baik orang daripada kalangan yang berdosa itu adalah yang bertaubat kepada Allah (riwayat al-Tirmidzi dan Ibnu Majah).” Justeru, wajar bagi setiap Muslim bermuhasabah terhadap segala amalan dan seterusnya bertaubat kepada Allah biarpun sekecil mana kesalahan itu. Perlu diinsafi bahawa taubat tidak sepatutnya ditunda atau ditangguhkan kepada waktu yang lain kerana ajal maut akan datang menjemput manusia pada bila-bila masa. Maka peluang keemasan yang disediakan Allah sepanjang Ramadan wajar direbut agar tidak menyesal kemudian hari

Saturday, 5 July 2014

Amalan Rasulullah SAW di bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan suci yang penuh dengan keberkahan dan keutamaan. Orang mukmin dianjurkan untuk merebut ganjaran sebaik-baiknya, dan sebanyak-banyaknya kesempatan dalam berbuat kebajikan apapun bentuknya. Bila kita menelusuri jejak Rasululah saw. dalam menyambut bulan suci Ramadhan ini, maka akan kita dapati hal-hal sbb:

Imej Ramadhan

1. Rasulullah saw selalu bergegas memenuhi panggilan kebaikan, seperti solat berjama’ah, solat sunnah, mengeluarkan sedekah, membaca al-Qur’an dan sebagainya.Rasululah saw bersabda:
“Apabila datang malam pertama bulan Ramadhan,dibelenggulah syaitan dan jin, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan dibukalah pintu-pintu syurga, kemudian diserukan: wahai orang yang mendambakan kebaikan, datanglah!! dan wahai orang yang tak suka kebaikan, bermalaslah!! (artinya, engganlah memperbanyak amalmu). Dan sesungguhnya dalam bulan Ramadhan ini setiap malamnya Allah swt. membebaskan orang-orang yang dikehendakiNYA dari api neraka. (Hadis riwayat Imam al-Tirmidzi)

2. Rasulullah saw melipatgandakan amal perbuatan yang baik, baik yang fardhu maupun yang sunnah. Diriwayatkan oleh Salman, bahwa pada suatu hari di penghujung bulan Sya’ban Rasulullah saw. bersabda;
“Wahai sekalian manusia, telah datang kepadamu bulan yang agung, penuh keberkahan, di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan; diwajibkan padanya puasa; dan dianjurkan untuk menghidupkan malam-malamnya. Maka barang siapa yang mengerjakan satu kebajikan pada bulan ini, seolah-olah ia mengerjakan satu perintah kewajiban di bulan lain, dan siapa yang mengerjakan ibadah yang wajib,seakan-akan ia mengerjakan tujuh puluh kali kewajiban tersebut di bulan yang lain.”

Begitulah pahala mengerjakan ibadah sunnah sama dengan pahala mengerjakan ibadah wajib, sedangkan ibadah wajib akan dibalas tujuh puluh kali lipat pahalanya.

3. Rasulullah saw sangat pemurah dan sangat gemar bersedekah serta memberi makan orang yang berpuasa. Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary ra., bahwa Rasulullah saw. adalah orang yang paling pemurah, lebih-lebih pada bulan Ramadhan. Diceritakan bahwa kebaikan beliau bagaikan hembusan angin yang lembut, membawa banyak rahmat, menabur kegembiraan di hati orang mukmin. Diriwayatkan pula bahwa beliau sangat penderma, bahkan tidak pernah menolak permintaan apapun yang diajukan ke beliau.

4. Banyak berdo’a, terutama ketika hendak berbuka puasa. Rasulullah saw bersabda:
“Saat-saat berbuka adalah saat yang paling tepat dan mujarab bagi orang yang berpuasa untuk berdoa.” Dan doa yang selalu diucapkan ketika berdoa adalah “Ya Allah, hanya keranamu aku berpuasa, dan dengan rezekimu aku berbuka, telah hilang haus dan dahaga, maka tetap hauslah pahala bagiku, ya Allah!!”.

5. Rasulullah saw selalu tadarus (membaca al-Qur’an). Setiap malam bulan Ramadhan Malaikat Jibril as. selalu datang menemui Rasulullah saw., dan bersama-sama membaca al-Qur’an, silih berganti. Hikmah tadarus Rasulullah di antaranya adalah untuk mengajarkan umatnya agar rajin membaca al-Qur’an atau tadarus, terutama di bulan suci Ramadhan itu, di setiap waktu, apalagi di malam hari, dan ketika mengerjakan solat malam (tahajjud).

6. Rasulullah saw meningkatkan kesungguhan ibadahnya terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Hal mana dilaksanakan untuk meraih terutama lailatul qadar. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Barangsiapa yang beribadah pada malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan harapan, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah ia lakukan.” Seperti kita ketahui, bahawa ibadah pada malam ini sama nilainya dengan kita beribadah seribu bulan lamanya. Dan doa yang paling afdhal (paling utama) diucapkan pada malam itu adalah: “Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pengampun dan Pemurah serta sangat suka memaafkan. Maka ampunilah kesalahan-kesalahan kami, ya Allah. (Allaahumma innaka ‘afuwwun kariim, tuhibbu al-’afwa fa’fu ‘annaa yaa kariim).

Diriwayatkan: barang siapa yang salat Maghrib dan Isya’ berjama’ah pada malam Lailatul Qadar itu, maka ia telah mendapatkan sebagian besar keutamaan malam Lailatul Qadar itu. Riwayat yang lain mengatakan, “Siapa yang salat Isya’ berjama’ah pada malam Lailatul Qadar itu, seakan-akan ia telah menghidupkan separuh malam tersebut, dan bila ia menunaikan salat Subuhnya, maka ia telah menyempurnakan seluruh malam Lailatur Qadar tersebut.

Itulah beberapa jejak Rasulullah saw pada bulan Ramadhan, yang pada dasarnya Rasululah saw mengajarkan umatnya agar bersungguh-sungguh meraih kebaikan-kebaikan yang ada padanya, dengan berbuat keta’atan, kebaikan, ibadah, terutama ibadah-ibadah sosial, seperti menolong orang lain, meringankan beban hidup orang lain, menyantuni anak yatim dan orang-orang yang papa atau memberi makan orang yang akan berbuka puasa. Di samping itu beliau juga mengajarkan umatnya agar menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan munkar, makruh, dan mubah, apalagi yang haram. Bahkan beliau memperingatkan dengan sabdanya:
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan keji atau kotor (seperti berdusta, membicarakan orang lain atau mengadu domba), maka tidak ada artinya puasanya itu, kecuali ia hanya merasakan lapar dan dahaga saja.”

Demikianlah, semoga Allah swt. menerima dan melipatgandakan amal ibadah kita, dan semoga Allah swt. memberikan kekuatan di dalam menjalankannya. Salawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad saw. Walhamdulillahirabbil’aalamiin.